Wednesday, June 30, 2010

Matlab Class

What is a MATLAB class? Even though the MATLAB user’s guide does a good job of answering it, I hear this question a lot. After numerous discussions and mentoring sessions, I now realize that this is not really the intended question. Askers are really searching for a framework on which they can build their own classes. Other languages provide this type of framework, so it is natural to expect MATLAB to provide one too. The user’s guide doesn’t define such a framework, probably for good reason. It would require more detail than is typical for a user’s guide.

In C++ and Java, the framework is largely predefined by the language syntax. In MATLAB,
no such framework exists and the few required elements allow for a lot of customization. Unfortunately, this also means there is no single answer to exactly what constitutes a MATLAB class or what constitutes an acceptable framework. There is a range of answers that depend on the desired level of customization. Classes designed to do one particular job in some specific application do not need an extensive framework. Classes that are nearly indistinguishable from built-in types or classes implemented with an extensive reuse goal require a sophisticated framework. Both need to include the required elements, but the first requires fewer “optional” elements.

Another thing to consider is change. The object-oriented framework in this book is tailored for MATLAB versions 6.5 through 7.1. When version 7 was released, a beta version containing several improvements to the object framework was also released. The framework in the version 7 beta release and the framework developed in this book can peacefully coexist. Future releases of MATLAB will undoubtedly contain framework elements that improve the performance or organization of this book’s framework. This is a good thing, and from what I have seen, it should be easy to incorporate those improvements. Also, from what I have seen, there is a lot to like in the beta version of the framework. Future releases could also include elements that break this book’s framework. So far, there is no hint of a problem. The detailed descriptions and examples in this book will allow you to adapt to any new framework.

EXAMPLE : CLASS REQUIREMENTS
Currently there are only two requirements for creating a class: a directory that identifies the class, and an m-file that defines the data structure and returns an object. Central to both requirements is the name of the class. All class files are stored in a directory with a name that is essentially the name of the class, and the name of the class’ defining m-file is the same as the class name. Since the class name and the name of the defining m-file are the same, the naming restrictions for the class are identical to restrictions placed on functions: no punctuation, no spaces, cannot start with a number, and so on.
Andy H. Register
read more...

Monday, June 28, 2010

IP Address

A. IP Address
Ip Address adalah alamat yang diberikan ke jaringan dan peralatan jaringan yang menggunakan protocol TCP/IP. IP address terdiri dari 32 bit angka biner yang dapat dituliskan sebagai empat angka decimal yang dipisahkan oleh tanda titik seperti 172.30.0.0.
Oleh karena protokol IP adalah protokol yang paling bnyak dipakai untuk meneruskan (routing) informasi di dalam jaringan komputer satu dengan yang lainnya.

B. Mengubah Angka Biner ke Desimal
Angka biner adalah angka yang terdiri dari 0 dan 1, dan di sebut juga sebagai bahasa mesin. Setiap angka biner 1 bergantung pada posisinya di dalam kelompok binernya, memiliki nilai decimal seperti dibawah ini :

Biner 1 1 1 1 1 1 1 1
Desimal 128 64 32 16 8 4 2 1

Angka biner 0 tentu memiliki nilai decimal 0 juga. Dengan menjumlahkan nilai-nilai decimal yang berkaitan. Berikut adalah contoh bilangan biner lainnya yang diubah ke decimal.

1 1 0 0 1 0 1 1
128 64 0 0 8 0 2 1 = 203

C. Mengubah Angka Desimal ke Biner
Cara menghitung nilai biner dari desimal yang diketahui adalah dengan metode membagi angka decimal dengan angka 2. Contoh seperti berikut :
  1. 203
203 : 2 = 101 sisa 1
101 : 2 = 50 sisa 1
50 : 2 = 25 sisa 0
25 : 2 = 12 sisa 1
12 : 2 = 6 sisa 0
6 : 2 = 3 sisa 0
3 : 2 = 1 sisa 1

Dari pembagian diatas, angka biner adalah angka-angka sisa yang dibaca dari bawah ke atas yaitu : 11001011

D. Kelas IP Address
Telah dijelaskan sebelumnya, IP address terdiri atas 32 bit angka biner, yang dapat ditulis dalam empat kelompok, terdiri atas 8 bit (oktet) dengan dipisah oleh tanda titik. Contohnya adalah seperti :
11000000.00010000.00001010.00000001
Atau juga dapat ditulis dalam bentuk empat kelompok angka decimal (0-255) seperti :
192.16.10.1
Atau secara simbolik dapat dituliskan sebagai empat kelompok huruf sebagai berikut :
w.x.y.z
IP address terdiri atas dua bagian yaitu network ID dan host ID, dimana network ID menentukan alamat dari jaringan, sedangkan host ID menentukan alamat dari peralatan jaringan. Oleh sebab itu IP address memberikan alamat lengkap suatu peralatan jaringan beserta alamat jaringan dimana peralatan itu berada. Ini sama ibaratnya dengan alamat rumah yang terdiri atas nama jalan dan nomor rumah, dimana network ID sebagai nama jalan, dan host ID sebagai nomor rumah.
Dalam contoh berikut, alamat jaringan (network ID) yang sering juga disebut network address adalah 172.30.0.0 yang merupakan nama jalan. Sedangkan alamat lengkap sever dan workstation adalah 172.30.0.1, 172.30.0.2, 172.30.0.3, 172.30.0.4.



Gambar 1.1 Contoh jaringan dengan IP address.
Jumlah kelompok angka yang termasuk network ID dan berapa yang termasuk host ID, bergantung pada kelas dari IP address yang dipakai.untuk mempermudah pemakaiaan bergantung pada kebutuhan si pemakai. Oleh sebab itu IP address dibagi dalam tiga kelas seperti tampak di bawah ini.

Kelas-kelas IP address dengan default subnet mask



Untuk dapat menandai kelas satu dengan kelas yang lainnya, maka dibuat beberapa peraturan sebagai berikut :
1. Oktet pertama dari kelas A harus dimulai dengan angka biner 0.
2. Oktet pertama dari kelas B harus dimulai dengan angka biner 10.
3. Oktet pertama dari kelas C harus dimulai dengan angka biner 110.
Oleh sebab itu, IP address dari masing-masing kelas harus dimulai dengan angka desimal tertentu pada oktet pertama, seperti terlihat di bawah ini :



Beberapa peraturan yang diketahui, yaitu :
1. Angka 127 di oktet pertama digunakan untuk loopback
2. Network ID tidak boleh semuanya terdiri atas angka 0 atau 1.
3. Host ID tidak boleh semuanya terdiri atas angka 0 atau 1.
Selain ketiga kelas A, B, C, sebenarnya ada lagi kelas D dan E yang jarang dipakai. Kelas D dimana oktet pertama dimulai dengan biner 110 dipergunakan untuk alamat-alamat multicast. Sedangkan kelas E dimana oktet pertama dimulai dengan biner 1111 digunakan untuk eksperimentasi.

E. Broadcast
Seperti telah dibahas di atas, bit-bit dari network ID maupun host ID tidak boleh semuanya berupa angka biner 0 atau 1. Apabila network ID dan host ID semuanya berupa angka biner 1, yang dapat ditulis sebagai angka decimal 255.255.255.255, maka alamat ini disebut floaded broadcast.
Jika host ID semua berupa angka biner 0, IP address ini menyatakan alamat network dari jaringan yang bersangkutan. Jika semua angka biner host ID berupa angka biner 1, maka IP address ini ditujukan untuk semua host di dalam jaringan yang bersangkutan, yang dipergunakan untuk mengirim pesan (broadcast) kepada semua hostyang berada didalam jaringan local.

F. Subnetting
Jika seorang pemilik sebuah IP address kelas B misalnya dengan network ID 172.30.0.0 memerlukan lebih dari satu network ID, maka ia harus mengajukan permohonan ke Internic (sebuah badan Internasional yang mengurusi masala IP address) untuk mendapatkan IP address baru. Namun persedian IP address saat ini sangat terbatas karena banyaknya jumlah situs-situs di internet. Untuk mengatasi kesulitan ini dan menghindarkan untuk mengajukan permohonan baru ke Internic, muncullah suatu teknik untuk memperbanyak network ID dari satu network ID yang sudah ada.

Hal ini dinamakan subnetting, dimana sebagian host ID dikorbankan untuk dipakai dalam membuat network ID tambahan. Sebagai contoh, perhatikan IP address 172.30.0.0 (10101100.00011110.00000000.00000000) dengan default subnet mask 255.255.0.0 untuk mempelajari cara kerja subnetting. Misalnya sekarang kita ingin memiliki dua network ID dari IP address 172.30.0.0. Mask dua bit teratas dari host ID, dengan menyelubungi (mask) dua bit dari host ID tersebut, maka akan mendapat empat kompinasi yaitu 00, 01, 10, 11 yang dapat dipakai untuk subnet. Perhatikan yang terjadi dengan default subnet mask 255.255.0.0 atau 11111111.11111111.00000000.00000000, setelah dimodifikasi menjadi angka biner 11111111.11111111.11000000.00000000 dimana dua bit teratas dari host ID di selubungi (Mask) untuk menjadi bagian dari network ID. Subnet mask yang baru sekarang menjadi 255.255.192.0. yaitu :256 - 192 = 64
Dengan demikian 4 network ID baru telah dibuat :
1. 172.30.0.0
2. 172.30.64.0
3. 172.30.128.0
4. 172.30.192.0

Perhitungan yang digunakan adalah :
Untuk jumlah network ID yang dapat dibuat yaitu dengan rumus 2n, dimana n adalah jumlah bit yang diselubung (mask). Berikut adalah perhitungannya :
Jumlah network ID : 22 = 4

Untuk jumlah host ID yang dapat dibuat yaitu dengan rumus 2y – 2, dimana y adalah banyaknya binary 0 yang tersisa setelah di mask. Berikut adalah perhtungannya :
Jumlah host ID per subnet : 214 – 2 = 16382
read more...

Friday, June 25, 2010

Siklus-Siklus Refrigerasi

A. Prinsip / Esensiasi Refrigerasi

Agar Didapatkan kondisi temperatur selalu berada dibawah temperatur lingkungan, maka temperatur rendah yang diperoleh tersebut harus dijaga dengan cara menyerap panas yang dimiliki waduk / reservoar / ruangan bertemperatur rendah secara kontinu. Untuk itu diperlukan suatu proses aliran panas yang berasal dari ruangan ini secara kontinu.

penyerapan panas dilakukan dengan cara penguapan (Evaporasi) Refrigeran cair. Refrigeran ini menguap pada evaporator pada tekanan evaporasi, untuk itu refrigeran harus memiliki titik didih yang rendah. Panas yang diserap uap refrigeran ini dibuang atau dilepas pada ruangan bertemperatur tinggi (Kondensor). Uap refrigeran ini ini secara kontinu dikembalikan ke keadaan awal (Refrigeran Cair) agar dapat menyerap panas (Kalor) dari ruangan bertemperatur rendah lagi. Untuk itu perlu suatu proses siklus, yang disebut dengan Siklus Refrigerasi.

Esensi dari Siklus Refrigerasi ini adalah pemindahan kalori atau panas dari ruangan bertemperatur rendah ke ruangan bertemperatur tinggi. Agar proses pemindahan panas ini terjadi, perlu adanya kompensasi atau pengorbanan energi dari luar atau ekstemal energi (Menurut Hukum II Thermodinamika). Energi Ekstemal tersebut dipasok oleh kompressor.



Siklus Refrigerasi terdiri dari langkah-langkah :
  1. Penyerapan panas pada ruangan temperatur rendah, oleh refrigeran cair pada evaporator.
  2. Kompressi uap pada refrigeran pada kompressor.
  3. Pembuangan atau pelepasan panas pada ruangan temperatur tinggi, oleh refrigeran pada kondensor.
  4. Ekspansi, pengembalian kondisi uap refrigeran seperti semula (refrigeran cair), oleh mesin atau katup Ekspansi.
B. Istilah-Istilah penting pada Refrigerasi
  1. Siklus Refrigerasi adalah apabila yang menjadi tujuan adalah pemindahan panas dari ruangan bertemperatur rendah. Contoh : Kulkas dan AC.
  2. Siklus pompa kalor adalah apabila yang menjadi tujuan adalah panas yang mana tersebut berasal dari ruangan bertemperatur rendah. Contoh: Pompa Kalor sebagai penghangat ruangan.
  3. Efek refrigerasi (Refrigerating Effect) adalah jumlah panas yang diserap diambil dari ruangan temperatur rendah.
  4. Efek Pemanasan (Heat Effect) adalah jumlah panas yang diterima oleh ruangan temperatur tinggi.
  5. Ton Refrigerasi adalah laju efek refrigerasi pada suatu operasi pabrik refrigeran (Pabrik Es), yang merupakan laju penyerapan panas sebesar 288.000 BTU per hari (24 Jam).
C. Tipe-Tipe Siklus Refrigerasi
Ada beberapa siklus dari siklus refrigerasi, antara lain :
  1. Siklus Refrigerasi Carnot.
  2. Siklus Refrigerasi Udara.
  3. Siklus Kompressi Udara.
  4. Siklus Kompressi Uap, terdiri dari :
  • Dengan Mesin Ekspansi.
  • Dengan Katup Ekspansi (Konvensional).

Disusun Oleh : Syamsuar (T. Mesin)

read more...

Thursday, June 24, 2010

Peralatan Refrigerasi

Operasi Refrigerasi butuh suatu mesin yang disebut dengan refrigerator. Refrigerator merupakan kumpulan serangkaian peralatan, seperti :
  1. Kompressor.
  2. Kondensor.
  3. Akumulator.
  4. Mesin Ekspansi / Katub Ekspansi
  5. Evaporator
A. Kompressor
Komprossor adalah alat yang digunakan untuk mengsihap uap refrigeran dan mengkompresinya sehinnga tekanan uap refrigeran naik sampai ke tekanan yang diperlukan untuk pengembunan (Kondensasi) uap Refrigeran di dalam kondensor. Kompressor ini digerakkan oleh sumber tenaga dari mesin penggerak, seperti :
  1. Motor Listrik.
  2. Motor Bakar.
  3. Diesel.
  4. Mesin Uap.
  5. Turbin Gas.
B. Kondensor.
Kondensor merupakan alat penukar panas yang berguna untuk mendinginkan uap Refrigeran dari kompressor agar dapat mengembun (Kondensasi) menjadi cairan. Pada saat pengembunan ini, refrigeran mengeluarkan sejumlah kalori (Panas pengembunan) yang mana panas ini diterima oleh media pendingin di dalam kondensor.

C. Akumulator.
Merupakan alat yang berguna untuk mengumpulkan cairan refrigeran yang berasal dari kondensor. dengan adanya alat ini akan memudahkan pengaturan stock dari total refrigeran.

D. Mesin Ekspansi Atau Katup Ekspansi.
Mesin atau katup ekspansi ini berfungsi untuk menurunkan tekanan dari cairan refrigeran sebelum masuk ke Evaporator, sehingga akan memudahkan refrigeran menguap di evaporator dan menyerap kalori (Panas) dari media yang didinginkan.

E. Evaporator.
Juga Merupakan alat penukar panas. Refrigeran cair dengan tekanan rendah setelah proses ekspansi, diuapkan dalam alat ini. Untuk penguapan Refrigeran cair ini tentu diperlukan sejumlah Kalori, yang mana diambil dari media yang akan didinginkan oleh sistem refrigerasi. misalnya pada mesin Air Conditioning (AC), media yang didinginkan adalah udara yang didinginkan di dalam ruangan (Kamar). Begitu Pula pada kulkas, media yang didinginkan adalah ruangan dalam kulkas dan segala sesuatu yang ada dalam kulkas. Uap refrigeran yang terbentuk di Evaporator langsung dihisap oleh Kompressor, demikian seterusnya mengulangi langkah pertama tadi sehingga membentuk suatu siklus, ayng disebut Siklus refrigerasi.


Disusun Oleh : Syamsuar (T.Mesin)

read more...

Refrigerasi

A. Refrigerasi
Refrigerasi adalah metode pengkondisian temperatur ruangan agar tetap berada di bawahtemperatur lingkungan. Karena temperatur ruangan yang terkondisi tersebut selalu beradadi bawah temperatur lingkungan, maka ruangan akan menjadi dingin, sehingga refrigerasidapat juga disebut dengan metode pendinginan.

Metode pendinginan (Refrigerasi) ini akan berhasil dengan bantuan zat Refrigerant. Refrigerant akan bertindak sebagai media penyerap dan pemindah panas dengan caramerubah fasanya. Refrigerant adalah suatu zat yang mudah berubah fasanya dari cairmenjadi uap dan sebaliknya apabila kondisi tekanan dan temperaturnya diubah.

B. Manfaat Refrigerasi
Operasi Refrigerasi mempunyai manfaat yang banyak, antara lain :
  1. Pengkondisian udara pada ruangan dalam bangunan atau rumah, sehingga temperatur di dalam bangunan atau rumah lebih dingin dibanding di luar rumah.
  2. Pengolahan / Transportasi / Penyediaan bahan-bahan makan atau minuman menjadi legis terhadap aktivitas mikro organisme.
  3. Pembuatan batu es dan dehidrasi gas dalam skala besar.
  4. Pemurnian minyak pelumas pada industri minyak bumi.
  5. Melangsungkan reaksi-reaksi kimia pada temperatur rendah.
  6. Pemisahan terhadap komponen-komponen hidrokarbon yang mudah menguap.
  7. pencairan gas untuk mendapatkan gas murni (O2 Dan N2).





Disusun Oleh : Syamsuar (T.Mesin)
read more...

Polymorphism Java

Polymorphism dapat disamakan dengan Method Overloading, dimana di dalam sebuah class terdapat beberapa method dengan nama sama. Sebuah Method bernama CetakData() yang misalnya berfungsi menampilkan data String, tentu tidak bisa menangani masukan berupa data numerik, boolean, ataupun karakter, demikian juga sebaliknya. Solusi yang bisa dilakukan adalah dengan menyediakan beberapa Method CetakData() yang akan menangani setiap tipe data, sehingga data apapun yang diberikan sebagai parameter tetap bisa diproses.
Berikut adalah contoh program Polymorphism pada Java:

1. Pakailah editor untuk menuliskan Source Code Java, seperti Notpad, JCreator, atau
Netbeans, Dan kitekkan Source Code Dibawah ini :


class CetakDataTipe {

// membuat method dengan nama sama tapi berbeda tipe data
public void CetakData(String Cetak) {
System.out.println(Cetak);
}
public void CetakData(int Cetak) {
System.out.println(Cetak);
}
public void CetakData(double Cetak) {
System.out.println(Cetak);
}
public void CetakData(char Cetak) {
System.out.println(Cetak);
}
}
public class Polymorphism {

public static void main(String[] args) {
CetakDataTipe data = new CetakDataTipe();

System.out.print("Cetak Data Tipe String : ");
data.CetakData("Sumatra");

System.out.print("Cetak Data Tipe Integer : ");
data.CetakData(1989);

System.out.print("Cetak Data Tipe Double : ");
data.CetakData(16.5 / 2);

System.out.print("Cetak Data Tipe Char : ");
data.CetakData('N');
}
}

2. Lalu Jalankan Program dan Akan mendapatkan Output seperti dibawah ini :


Method CetakData() akan bereaksi dengan satu dari 4 macam tipe data, tergantung dari data yang Passing ke dalamnnya. Keragaman model Method ini disebut Polimorph atau Banyak Bentuk.
read more...